Seberangi Laut Demi Nyawa Manusia.

  • Pemerintah Kabupaten Peduli Kesehatan Warga Pulau Mantehage dan Nain.
  • Dekatkan Pelayanan Kesehatan Kepada Warga
dr Yusuf O Nainggolan sebagai kepala Puskesmas, dr Yashinta Tulong, Penyuluh Kesehatan Marcelino J Runtu, SKM, Sanitarian Youdi A Dumanauw, AMKL saat menggunakan perahu menyeberang ke Pulau Mantehage

dr Yusuf O Nainggolan sebagai kepala Puskesmas, dr Yashinta Tulong, Penyuluh Kesehatan Marcelino J Runtu, SKM, Sanitarian Youdi A Dumanauw, AMKL saat menggunakan perahu menyeberang ke Pulau Mantehage

Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara peduli dengan kondisi kesehatan masyarakat kepulauan, khusunya dua pulau di Kecamatan Wori yakni Pulau Nain dan Pulau Mantehage. Usai membangun gedung Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Tinongko di Pulau Mantehage, Pemerintah Kabupaten langsung menempatkan personil kesehatan untuk melayani kebutuhan, keinginan dan kerinduan warga pulau dalam pelayanan kesehatan. Intinya, pelayanan kesehatan didekatkan dengan masyarakat.

Sediktinya 10 perintis tenaga kesehatan ditempatkan  di Puskesmas Tinongko Mantehage untuk melayani kebutuhan kesehatan 5.507 jiwa   di Pulau Mantehage dan Wori. Di Pulau Mantehage sendiri terdiri empat desa yakni, Tinongko, Buhias, Bango dan Tangkasi. Di Pulau Nain terdiri Desa Nain, Nain Satu dan Tatampi (Tarente dan Tatampi).  Dua pulau tersebut kabarnya disebut sebagai Daerah Tertinggal Perbatasan dan Kepulauan (DTPK), sehingga terus ada perhatian dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Penyuluh Kesehatan Marcelino J Runtu, SKM, Sanitarian Youdi A Dumanauw, AMKL, Wanny T Palar, AMKL tampak menikmati perjalanan ke pulau Mantehage

Penyuluh Kesehatan Marcelino J Runtu, SKM, Sanitarian Youdi A Dumanauw, AMKL, Wanny T Palar, AMKL tampak menikmati perjalanan ke pulau Mantehage

Personil PNS  yang ditempatkan di pulau terluar  tersebut yakni dr Yusuf O Nainggolan sebagai kepala Puskesmas, selanjutnya dr Yashinta Tulong, Penyuluh Kesehatan Marcelino J Runtu, SKM, Sanitarian Youdi A Dumanauw, AMKL, Wanny T Palar, AMKL. Bidang Selvi Ponge, dan Syane M Palendeng. Untuk dokter PTT yakni dr Grace Worotican, dr Marcelino Tangkudung dan dr Rico Pandean. 10 tenaga medis tersebut tetap melayani dengan cinta, iklas serta suka rela demi keselamatan warga pulau. Walaupun meleweti lautan namun mereka tetap tak pantang mundur menghadapi gelombang dan badai. Semangat mengabdi untuk nyawa manusia adalah lebih penting, walaupun nyawa mereka pun terancam. Tak ada rasa  takut lewati gelombang dan badai laut yang menggelora. Tak ada rasa minder walaupun sering dicerca, tak ada rasa kecewa walaupun harus melayani masyarakat di dua pulau sekalipun. “Inilah panggilan hidup dan profesi untuk melayani masyarakat, kita jalani dengan enjoy, sebab yang kita layani adalah manusia ciptaan Tuhan,” kata  dr Yusuf O Nainggolan dan Penyuluh Kesehatan Marcelino Runtu, SKM.

Air Laut bisa Surut namun tidak pernah menyurutkan semangat tim medis yang melayani di Puskesmas Tinongko

Air Laut bisa Surut namun tidak pernah menyurutkan semangat tim medis yang melayani di Puskesmas Tinongko

Perjuangan tanpa batas para pejuang kesehatan di Pulau Mantehage dan Nain tersebut tetap didukung oleh pemerintah kabupaten lewat Dinas Kesehatan Kabupaten Minahasa Utara. Biaya operasional lewat Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Minahasa Utara tetap disuplai. Obat-obatan, tunjangan kinerja, operasional Puskesmas seperti alat tulis menulis, komputer, printer plus scan dan lainnya tetap disediakan guna mendukung pelayanan kesehatan secara prima. Biaya operasional sewa alat transportasi laut lewat kapal maupun perahu tetap disalurkan. “Kami berterima kasih kepada pemerintah kabupaten Minahasa Utara yang tetap menunjang kinerja kami dan tetap memperhatikan serta peduli kesehatan warga pulau,” tambah Nainggolan.

Itulah hidup yang harus dijalan dengan positif. Para personil Puskesmas Tinongko ini pun bekerja dengan fighting spirit tinggi. Walaupun hari libur (kalender tanggal merah), mereka pun tetap kerja melayani permintaan pelayanan kesehatan. Tak segan-segan, jam kerja pun tanpa batas. Mereka mulai kerja pukul 08:00 Wita, namun waktu berhenti kerja tak lagi mengikuti jam kantor, namun mereka tetap bekerja, bahkan sampai malam. Bukan hanya itu saja. Ketika suatu waktu ada permintaan pelayanan kesehatan di Pulau Nain, mereka pun langsung on the way, walaupun hari mulai gelap.

Membawa peralatan kesehatan dan tenteng obat lewati nyare sejauh 100 – 200 meter menuju perahu tetap dilakoni. Lipat celana bakan sering jatuh ke air sampai seluruh pakaian basah adalah situasi yang terjadi saat mereka akan melakukan Posyandu di pulau seberang. “Posisi Puskesmas ada di Pulau Mantehage sedangkan jadwal Posyandu di Desa di Pulau Nain, kami harus seberangi laut selama hampir satu jam,” kaya Yusuf dan Marcel.

Ketika selesai Posyandu sore hari, mereka harus balik ke Tinogko Pulau Mantehage ke ‘markas’ mereka. Bisa dibayangkan, mereka harus melewati laut selama satu jam di malam hari dengan berikatkan rompi pelampung. Rasa was-was, takut dan cemas sudah menjadi menu mereka setiap melintasi laut. “Bermodalkan semangat dan percaya bahwa Tuhan menyertai kami,” kata Yusuf dan Marcel.

Jatuh ke air, handphone tenggelam, pakaian seluruhnya basah, mabok

dr Yusuf O Nainggolan sebagai kepala Puskesmas dan Penyuluh Kesehatan Marcelino J Runtu di pelabuhan penyeberangan Likupang

dr Yusuf O Nainggolan sebagai kepala Puskesmas dan Penyuluh Kesehatan Marcelino J Runtu di pelabuhan penyeberangan Likupang

laut pernah dialami mereka. “Pengalaman ini mahal harganya dan tak akan kembali lagi. Jalani dengan cinta dan pasti di ujung pelayanan semoga kesehatan dan pola hidup sehat masyarakat makin membaik,” kata Yusuf dan Marcel, dua PNS pengangkatan tahun 2011.

Hari libur tetap masuk kerja, dan melayani tanpa batas demi kesehatan masyarakat. Ada hal lain yang luar biasa.  Apa  itu. Ya, untuk pelayanan kebidanan di Pulau Mantehage dan Pulau Nain, masing-masing hanya dilayani 1 bidan.  Bidan Selvi Ponge di Pulau Mantehage dan Syane Palendeng di Pulau Nain. “Satu pulau dilayani satu bidan,” kata warga Pulau Mantehage.

Bagaimana dengan kondisi listrik di dua pulau itu ?. Ternyata ada dan pelayanan PT PLN dan dimulai dari pukul 17:00 Wita sampai pukul 01:00 Wita, setiap hari. Berarti siang hari tidak ada listrik. “Di Puskesmas ada listrik, karena ada genset yang diberikan oleh Dinas Kesehatan Minahasa Utara untuk memperlancar pelayanan kesehatan,” tambah keduanya.

Bukan hanya seberangi laut, ternyata ‘pahlawan kesehatan’ Puskesmas Tinongko juga sering mendaki gunung yang bebatuan dan jalannya  licin. Ternyata, desa-desa di Pulau Nain dan Mantehage tidak sambung menyambung namun terpisah dengan jarak  cukup jauh. Ditambah lagi tidak ada jalan  memadai, sehingga harus naik gunung saat akan melayani kesehatan masyarakat di kampung sebelah. Jalan berlumpur, tebing curam, licin dan sering berhadapan dengan ular, tapi tak mengurungkan niat mereka untuk melayani kesehatan anak-anak, orang tua bahkan para lanjut usia (Lansia). “Yang kami ingat adalah, kami sehat sedangkan yang membutuhkan adalah orang sakit. Kalau bukan tenaga kesehatan, siapa lagi yang akan layani mereka,” ujar Nainggolan dan Runtu.

Ada juga pengalaman menarik yang pernah dialami. Ya, saat mereka sedang tidur, tiba-tiba pintuk diketuk dan ternyata masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Mau tidak mau harus layani karena itu adalah tugas dan profesi. Ketika dilihat, ternyata pasien alami kecelakaan lalu lintas atau jatuh dari sepeda motor, ada yang jatuh di rumah, tapi ada juga yang sakit mendadak di rumah dan harus dirawat di Puskesmas, tapi ada juga yang harus ditemui tim media di rumah pasien. Ada juga pasien yang berkonsultasi hanya karena sulit tidur.

Usai melayani kesehatan masyarakat pulau dan kembali ke tempat penginapan dengan melewati laut dan mendaki gunung, para pelayan kesehatan selalu bersyukur dan bersukacita atas pengalaman emas yang mereka jalani. “Usai kerja, torang langsung dan selalu berkata, ini pengalaman luar biasa dalam hidup. Terima kasih Tuhan,” kata mereka…(*)

Tags: ,
Komentar yang mengikutsertakan alamat web dan/atau alamat email tambahan akan menyebabkan komentar anda tidak dapat ditampilkan secara otomatis. Please, Stop SPAM..!
Subscribe to Comments RSS Feed in this post

14 Responses

  1. Salut! Yang seperti ini yang dibutuhkan oleh masyarakat di daerah terpencil.. Semoga saja ini bisa menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia

  2. Publikasi yang positif….Informasi yang Hebat …Kami tunggu news selanjutnya untuk kemanusiaan ……….salut

  3. benar-benar indept ..

  4. Terkesima dengan tulisan kemanusiaan … pahlawan kesehatan..layak diberi perhatian ..

  5. mantap…

  6. Selalu semangat memberikan informasi terbarunya ya, salam hangat

  7. keren, inilah panutan yang pantas ditiru… saya sangat mengapresiasi beliau

  8. Adminya siapa ini? #Sekdes Tatampi

  9. judul nya kok aneh nih 🙂

  10. bener bener hebat. Salut!

  11. 1 kata untukmu = Mantaaapz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*